Dari: danu wijaya
Topik: [Illegal_Fishing_ Indonesia] Fw: [diklatpeneliti47] Fw: Tar-Com>> Susu
Sapi berbahaya bagi Manusia
Kepada: "keluarga brppu"
yahoogroups. com, prajab3limabelasena mbelas@yahoogrou ps.com, "illegal fishing
indonesia"
wikanswasti"
"yan yuda suryanto"
Tanggal: Jumat, 19 Juni, 2009, 10:35 AM
Dahlan Iskan: Susu Sapi Bukan untuk Manusia
Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu
-kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah
tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi
perilaku yang alami seperti itu?
"Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof Dr
Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban
Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal,
katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manu sia. Manusia
seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum
susu
sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.
Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab
osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika
masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan
enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus
semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan
sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan
cadangan "enzim induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu
mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan
tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna
susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.
Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di
dunia. Dialah dokter pe
rtama di dunia yang melakukan operasi polip dan
tumor di usus tanpa harus membedah perut.. Dia kini sudah berumur 70 tahun.
Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah
memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan
Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai
dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu...
Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian.
Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan
minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang
makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara
lain susu dan daging.
Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan
makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul,
bercak-bercak hitam, dan
menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ
berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang
makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata,
kemerahan, dan segar.
Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan
kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya
kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya,
pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel
radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan,
makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang
menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan
menimbulkan penyakit lagi.
Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya
menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke
perut.
Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, ke
ilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita
menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak
makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti
bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari
seluruh makanan yang kita perlukan.
Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang
kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari"
oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang
tidak makan daging.. Ketahanan larinya lebih hebat.
Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu,
katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan
yang agak keras harus sampai 70
kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan
bisa bercampur dengan enzim secara
sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang
baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan.
Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.
Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan.
Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar
setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur
itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya
diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan
tidak akan gembrot.
Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi
"modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu
yang
tersimpan di dalam "lumbung enzim-induk". Enzim-induk ini setiap hari
dikeluarkan dari "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim
sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut,
semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia,
adalah habisnya enzim di lu mbung masing-masing.
Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing
haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan
cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini.
Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah
lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau
lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan
pun demikian.
Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah
persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau
makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau
makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi,
katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu
memerlukan enzim yang banyak.
Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan
terlalu banyak makan maka nan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan
tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun
memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk
apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan
untuk membuang kelebihannya juga harus
menguras
lumbung enzim.
Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan
sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah
sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan
makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa.
Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya
secara terus-menerus atau terlalu sering.
Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu.
Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan
dengan "pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta
mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan.
Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya
itu. Jarang
dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara
keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya
bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain.
Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang
sesungguhnya.
Senin, 06 Juli 2009
Susu Sapi Bukan untuk Manusia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

-3.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar